Radar Nganjuk tanggal 3 dan 4 Februari 2016 - Tenaga kerja Tiongkok sudah mulai masuk ke Nganjuk.
Hanya berbekal visa kunjungan, mereka sudah mulai bekerja untuk
memulai proyek Tol Trans Jawa, di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, di bawah sponsor perusahan China Road and Bridge
Corporation (CRBC).
Mau tidak mau, siap atau tidak MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) sudah bergulir di tenggah kita.
Sebenarnya, MEA turut memberi peluang dan tantangan bagi
negara anggota ASEAN termasuk Indonesia. Apalagi Wakil Menteri
Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan ketika MEA 2015 mulai
diterapkan, pasar Indonesia paling potensial di wilayah ASEAN. Besarnya
pasar Indonesia tersebut telah dilirik para pengusaha luar negeri,
khususnya ASEAN.
Sejatinya penerapan MEA bagai
dua sisi mata uang. Satu sisi merupakan peluang bagi para pelaku usaha
di Indonesia berekspansi ke wilayah ASEAN tanpa adanya hambatan. Namun
di sisi lain keran akan terbuka luas bagi produk luar negeri masuk ke
Indonesia.
Salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah bagaimana menghadapi gempuran
tenaga asing yang masuk, terutama dalam segi keahlian dan kemampuan
tenaga kerja. Indonesia harus menerapkan strategi dan taktik pemasaran
agar berhasil di MEA. Sebagai tenaga kerja yang terampil, dan juga
pengusaha, kita bisa berpartisipasi dalam menghadapi persaingan MEA. Selain meningkatkan skill, kita yang berprofesi sebagai pengusaha
juga harus giat memasarkan produk-produk kita hingga ke mancanegara.
Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani,
industri dalam negeri makin siap menghadapi berlakunya pasar bebas
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hal ini nyata terlihat dari rapor
investasi di tiga sektor prioritas yang mengalami peningkatan hingga
Triwulan 2015, yakni industri berorientasi ekspor, industri substitusi
impor dan hilirisasi sumber daya mineral.
Dan, beberapa sektor di Indonesia juga sudah bersiap-siap menghadapi
persaingan menjelang Masyarakat Ekonomi Asean 2015. Sektor apa saja itu?
Perdagangan
Data realisasi Januari-September 2015 untuk perdagangan berorientasi
ekspor sebesar Rp 25,7 triliun atau naik 10,4 persen dibandingkan
periode yang sama tahun sebelumnya. Industri substitusi impor meningkat
15,9 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 34,5 triliun.
Sementara investasi pada sektor hilir sumber daya mineral sebesar Rp
33,2 triliun atau naik 66,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya.
Pemberlakuan MEA tak dapat dicegah, namun cara mengantisipasi agar
pasar perdagangan dalam negeri tak terkikis oleh serbuan asing adalah
meningkatkan kualitas serta produksi ekspor. Jangan hanya sekadar
menjadi penonton dan menyaksikan produk impor masuk ke tanah air. Para
pengusaha bisa memanfaatkan peluang ekspor yang semakin lebar dengan
terbukanya pasar. Adanya kenaikan realisasi investasi pada tiga sektor tersebut
menunjukkan arah pemerintah untuk mendorong industri kita berdaya saing
dan berorientasi ekspor makin terlihat. BKPM turut berupaya menarik
investasi demi menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga
tidak hanya dijadikan sebagai pasar produk-produk impor. Salah satu
pertimbangan investor sebelum menanamkan modalnya di Indonesia dan
menjadikannya sebagai basis produksi adalah melihat daya saing ekspor
Indonesia.
Industri Kecil dan Menengah
Maraknya usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia harus jadi salah
satu tombak pembendung MEA. UKM di Indonesia sudah banyak juga yang
go global, bukan hanya sampai di kancah lokal saja. Dan potensi tersebut harus dikembangkan.
Bagaimana caranya agar pengusaha UKM ini tak tergerus masuknya
produk-produk impor? Mereka harus berusaha menciptakan produk inovatif
berdaya saing tinggi dan turut didukung oleh sumber daya manusia yang
profesional. Perihal sumber daya manusia, para pengusaha UKM sudah harus
selektif memilih SDM yang berkompeten, mampu bersaing serta mampu
menjadi pemain di pasar dalam negeri maupun luar negeri. Sementara itu
pemerintah harus ikut membantu dalam menciptakan infrastruktur,
teknologi dan iklim usaha yang kondusif.
Dukungan pemerintah dalam membekali pengusaha UKM menghadapi MEA memang sangat serius. Hal ini terbukti dengan usaha Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) yang fokus melaksanakan Program Penumbuhan
dan Pengembangan Kewirausahaan. Program ini dilakukan melalui penumbuhan
wirausaha industri di daerah tertinggal dan daerah potensial, wirausaha
industri melalui program TPL Beasiswa dan melalui kerja sama dengan
lembaga pendidikan.
Bukan cuma itu saja, pemerintah daerah turut serta menggalakkan UKM di
wilayahnya masing-masing. Salah satu caranya adalah dengan
menyelenggarakan expo dan pameran bertajuk produk khas daerah. Tujuannya
bukan hanya meningkatkan kapasitas pelaku UKM namun juga mengenalkan
pada masyarakat akan hasil produksinya. Bahkan bisa melancong hingga
Go Internasional.
Pariwisata
Pariwisata Indonesia optimis bersaing menghadapi MEA. Arief Yahya
selaku Menteri Pariwisata menetapkan tujuan pada tiga pintu paling utama
yaitu Great Bali, Great Jakarta, dan Great Batam. Ketiganya menyumbang
kontribusi sebesar 90 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara
ke Indonesia.
Meski demikian, industri pariwisata terus bergairah menyambut MEA.
Strategi pertama yang harus dilakukan untuk menumbuhkan daya saing
Indonesia di antara negara ASEAN lainnya adalah meningkatkan kualitas
SDM di bidang pariwisata. Hal ini dapat dimulai dengan membekali tenaga
kerja pariwisata dengan pelatihan setingkat internasional. Dan jangan
lupakan pentingnya sertifikasi profesi. Sertifikasi ini menjadi senjata
ampuh bagi tenaga kerja agar diakui di internasional.
Dari segi pemerintah, diharapkan pembangunan infrastruktur berupa
bandara dan marina segera dipercepat. Sebagai pintu masuk wisatawan
mancanegara, keberadaan sarana tersebut sangat dibutuhkan. Apalagi jika
ingin mencapai target kunjungan wisatawan yang mencapai 20 juta.
Kelautan
Sebagai negara maritim yang dikelilingi oleh ribuan pulau, kelautan
Indonesia sangat potensial untuk dijadikan peluang kerja. Bahkan,
pelayaran dalam negeri menjadi salah satu incaran pekerja asing saat
Masyarakat Ekonomi ASEAN diberlakukan. Bila tak ingin kalah dengan
serbuan tenaga asing, kualitas sumber daya manusia di Indonesia harus
ditingkatkan. Caranya adalah menggelar pendidikan dan pelatihan untuk
SDM Indonesia melalui pengadaan fasilitas dan perbaikan pendidikan.
Dikutip dari liputan6.com, Direktur Akademi Pelayaran Niaga Indonesia
(Akpelni) Semarang Achmad Sulistyo mengungkapkan, pihaknya berupaya
memenuhi implementasi Standards of Training, Certification and
Watchkeeping for Seafarers (STCW) Amandemen 2010 yang ditetapkan
International Maritime Organization (IMO) guna membendung serbuan tenaga
asing.
Di samping itu, usaha lain yang patut dijalankan tenaga kerja pelayaran
dalam negeri untuk bersaing di tengah MEA adalah mematuhi Direktorat
Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan mengenai
approval program diklat kelautan pada lembaga diklat program pembentukan
atau perguruan tinggi untuk mendapat sertifikat Ahli Nautika Tingkat
III dan Ahli Teknika.
Perindustrian
Kementerian Perindustrian menargetkan 21.880 tenaga kerja industri
terampil dan kompeten pada 2015 untuk program pengembangan industri.
Penerapan langkah kebijakan demi mewujudkan hal itu melalui pengembangan
pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi, mengembangkan
pendidikan, dan pelatihan industri berbasis kompetensi. Bukan hanya itu
saja, Kemenperin juga memperlengkapi tenaga kerja di sektor industri
dengan menyusun sertifikasi kompetensi wajib.
Langkah-langkah tersebut diharap bisa mewujudkan tersedianya Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang industri sebanyak 30
buah, dan tersedianya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), dan Tempat Uji
Kompetensi (TUK) bidang industri sebanyak 20 buah. Selain itu, bertujuan
meningkatkan pendidikan dan keahlian calon asesor dan kompetensi asesor
serta lisensi 400 orang serta pendirian akademisi komunitas di kawasan
industri sebanyak 3 buah.
Sementara dalam hal industri kreatif, pemberlakuan MEA memicu para
pelaku industri kreatif berpeluang mendulang keuntungan dengan
terbukanya pasar ASEAN. Apalagi generasi muda di Indonesia terkenal
piawai menciptakan kreativitas serta mengasah kemampuan dalam melahirkan
produk-produk baru berbasis budaya lokal. Dan hal ini mumpuni jadi
nilai jual dalam menangkal serbuan produk-produk asing ke tanah air.
Jasa Konstruksi
Kekuatan jasa konstruksi tanah air terletak pada keunggulan tenaga
kerjanya. Meskipun Indonesia memiliki 600 ribu insinyur dengan
kompetensi yang bisa disejajarkan dengan negara lainnya, namun masih
harus mengalami pembenahan. Semisal dalam hal peningkatan daya saing dan
tenaga ahli agar lebih mapan menghadapi MEA. Peningkatan daya
saing tersebut dapat ditunjang dengan pembentukan regulasi dan kebijakan
persaingan pembangunan infrastruktur, sertifikasi pelaku industri dan
jasa konstruksi, serta peningkatan keahlian dan keterampilan (spesialis
dan generalis).
Sesuai visi dan misi Presiden Joko Widodo serta program-program yang
disusun pemerintah, Kadin memperkirakan mulai tahun depan pasar untuk
jasa konstruksi akan berkembang dengan cepat. Fokusnya mengacu pada
pengembangan jasa konstruksi maritim agar tidak menjadi porsi asing.
Sumber: AturDuit.com